Minggu, 22 November 2009

Menteri atau artis ?

2 komentar
Saya teringat beberapa tahun lalu ketika menonton sebuah acara remaja di salah satu stasiun televisi swasta. Acara seperti ini ya yang disebut variety show ? Di dalamnya memuat beberapa sesi berbeda. Ada liputan, kuis, ramalan bintang, dan lain-lain. Salah satu sesi, entah namanya apa dibuat seperti format acara cepat tepat. Dua regu yang masing-masing terdiri dari dua atau tiga orang anak SMU (lupa) saling berebut menjawab pertanyaan – pertanyaan untuk memperoleh poin sebanyak-banyaknya.

Setelah beberapa pertanyaan, tiba sebuah pertanyaan yang membuatku tertawa saat salah satu peserta menjawab. Ini lucu, paling tidak bagiku. Pertanyaan itu adalah, siapa Menkominfo (yang menjabat saat itu tentunya) ? Dengan sigap seorang peserta memencet bel dan dengan suara lantang dan cepat menjawab,”Saiful Jamil !!”. Tidak banyak yang tertawa, kecuali sang pembawa acara yang di tangannya ada kunci jawaban bertuliskan SOFYAN JALIL. Saat jawaban yang benar dibacakan barulah ramai penonton tertawa. Respon penonton untuk tertawa itu sedikit lambat kemungkinan karena tidak banyak yang tahu siapa nama Menkominfo kita saat itu ataupun sekarang. Padahal sebenarnya cukup dengan mendengar nama SAIFUL JAMIL pun sudah bisa membuat kita tertawa.

Anak itu tidak salah. Dia mungkin hanya salah menyebut saja. Yang di otaknya mungkin sudah ada nama SOFYAN JALIL tapi entah karena terlalu ingin cepat menjawab atau terbayang-bayang wajah SAIFUL JAMIL hehehe hingga bibirnya jadi salah. Wajar sih kalau salah sebut. Dari segi pengucapan, kedua nama itu sekilas mirip. Wajar pula kalau ia terbayang si artis. Saat itu memang sang artis sedang “rajin-rajin”nya muncul di acara infotainment karena berbagai kontroversi yang dibuatnya.

Menurutku ini salah satu efek dari industri pertelevisian kita yang cenderung lebih mengejar profit. Infotainment yang kalau dihitung-hitung jatah tayangnya lebih banyak dibanding acara-acara yang bernilai edukasi, banyak diminati penonton. Dalam satu hari satu acara yang sama di satu stasiun televisi sampai muncul tiga kali dengan berita yang diulang-ulang. Belum lagi di stasiun televisi lain. Banyak peminatnya, banyak iklannya. Begitu ya kira-kira ?

Masyarakat jadinya lebih mengenal nama-nama artis dari yang super terkenal hingga yang tak tahu spesialisasinya sebenarnya apa (pemain sinetron kah, penyanyi kah, atau apa?) dibanding nama para menteri kita. Kalau saya adalah anak itu, saya akan membela diri dengan mengatakan,”Siapa suruh menterinya ganti-ganti melulu!".

Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak ingat. :)

Senin, 16 November 2009

Belajar di Perantauan

10 komentar
“Singa jika tidak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Merantaulah, maka kau akan dapatkan banyak hal. Kau akan dapatkan pengganti dari sanak familimu.”
Kutipan ini kudapatkan saat mendengar siaran sebuah radio. Sayang sekali saya lupa siapa pemilik kutipan ini. Segera kuabadikan di catatan telepon genggam karena sangat mengena di benakku.

Dulu merantau adalah sesuatu yang terlihat sangat berat dan kupikir hampir tidak mungkin kulakukan. Makanya seseorang yang merantau terlihat hebat di mataku. Tetapi ternyata, sebagai singa akhirnya sarang kutinggalkan juga.

Bagiku ini bukan hanya tentang mencari mangsa, ini tentang memasuki hidup yang sebenarnya. Banyak hal baru yang kudapatkan. Hal-hal yang sampai membuatku terheran-heran dan berpikir,” Ada ya begitu ?” atau sekedar berkata,”Ooooh begini toh…”. Sebagian bisa kujadikan pelajaran hidup, sebagian lagi cukup untuk menambah pengetahuan tetapi tidak menutup kemungkinan bisa mengajariku sesuatu nantinya.

Saya hanya akan menceritakan sedikit dari pelajaran itu.

Di perantauan ini saya semakin tahu arti menghargai orang lain. Saya ini adalah seorang yang cukup egois. Mungkin karena “berstatus” anak bungsu dan satu-satunya perempuan dari 5 bersaudara, saya terbiasa diikuti maunya. Walaupun tidak separah anak tunggal kaya yang sangat antagonis seperti di sinetron-sinetron, tetapi saya cukup sadar bagaimana egoisnya diriku hehehe…

Sekarang, sifat itu harus disingkirkan perlahan-lahan. Kalau sekaligus sepertinya susah. Satu hal yang musti kusadari, di sini saya sendiri. Orang-orang baru yang kukenal ini tidak mengenal dalam latar belakangku, bagaimana dulunya saya diperlakukan. Yang mereka tahu, saya hanya seorang perempuan berusia sekitar seperempat abad yang tidak perlu diperlakukan istimewa layaknya anak kecil.

Saya harus belajar bisa menerima perlakuan atau sikap buruk seseorang saat ia dirundung masalah. Setiap orang punya cara sendiri dalam melampiaskan kekesalan atau kesedihannya. Dan itu terkadang membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman. Dulu saya bisa dengan seenaknya ngambek, marah, pasang tampang jutek, dan aneka ekspresi kesal lainnya saat punya masalah. Kini, saya yang harus sabar melihat orang lain bertingkah seperti itu.

Saya berkata pada diriku sendiri, “Hana, kamu sudah lihat kan bagaimana tidak enaknya diperlakukan buruk dan bagaimana enaknya diperlakukan dengan sangat baik oleh orang lain? Kenapa tidak kau perlakukan mereka sama seperti bagaimana kau ingin diperlakukan ?”

Minggu, 30 Agustus 2009

Saya di Manado

11 komentar
Manado… Tak pernah terbayang kalau saya akan tinggal di kota ini. Walaupun masih berada di satu pulau dengan dua kota tempat tinggalku sebelumnya (Kendari dan Makassar), Manado sangat asing bagiku. Namun pekerjaan sebagai abdi negara lah yang akhirnya membawaku kesini. Itulah rahasia Allah, apa yang akan terjadi manusia tak pernah bisa tahu pasti. Karena itulah dalam ilmu Statistika dikenal istilah peluang. Kita hanya bisa menghitung seberapa besar peluang kejadian yang akan terjadi. Tidak ada rumus matematika untuk menentukan kejadian apa yang akan terjadi besok. Hehehe jadi ingat masa-masa kuliah. Kembali ke soal kesanku terhadap kota tempat tinggalku sekarang ini. Tentunya tiap kota memiliki perbedaan. Dan itulah yang menjadi salah satu sisi menarik dari berpindah tempat tinggal. Karakteristik kotaku sebelumnya yang kujadikan parameter untuk memberi kesan terhadap kotaku yang sekarang.

Pertama tiba di bandara Sam Ratulangi, sudah lewat tengah malam. Saya memilih penerbangan pada jam itu karena itulah harga termurah. Waktu itu bertepatan musim liburan jadi tiket lumayan mahal. Tentu saja karena malam saya tidak bisa melihat jelas keadaan kota. Nanti keesokan hari baru terlihat betul bagaimana situasi kota Manado. Bersih, itu kesan pertama. Manado mungkin bukan kota terbersih di Indonesia. Tetapi berhubung kota yang menjadi pembanding adalah Kendari dan Makassar, maka sangat pantas jika ini yang menjadi kesanku. Penataan kotanya pun rapi. Pusat perbelanjaan seperti mall dan pertokoan besar terletak di daerah pinggir laut yang oleh masyarakatnya disebut Boulevard. Sungguh menyenangkan saat kita makan di foodcourt di lantai paling atas beberapa pusat perbelanjaan. Sambil makan menikmati pemandangan laut yang indah. Ya laut Sulawesi Utara memang indah.

Dari segi bahasa, Makassar dan Kendari banyak memakai “partikel” berupa imbuhan yang sama. Namun tidak demikian dengan Manado. Logat Manado termasuk yang cukup populer di Indonesia. Partikel jo dan dang, kata ngana, sudah lama kudengar. Tapi jangan salah, walaupun sekilas bahasa Manado hanya memakai kata-kata bahasa Indonesia ternyata membingungkan juga. Sebagai contoh, kata alus (dari kata halus) yang ternyata berarti kecil (untuk benda) atau kurus (untuk tubuh manusia). Iko (dari kata ikut) juga diartikan lewat. Misalnya ketika ada yang berkata, iko sini itu berarti lewat sini. Satu lagi yang pernah membuatku salah mengerti. Kata batunangan kupikir artinya bertunangan padahal berpacaran. Fuhh… Terakhir ada istilah gaul masyarakat Manado dalam menyebut orang tua. Ajus yang berarti ibu dan sebe yang berarti bapak. Seorang teman pernah memberitahuku kepanjangan dari kedua istilah tersebut. Mungkin itu plesetan yang dicocok-cocokkan saja. Saya tidak tahu pasti. Sebe adalah singkatan dari Setan Besar, sedang Ajus dipanjangkan menjadi Ajudan Setan. Wah ada-ada saja. Ada yang bilang istilah ini sebenarnya kurang sopan penggunaannya. Tapi kok banyak dipakai ya ? Bahkan mereka yang sudah berstatus orang tua pun memakai istilah ini. Entahlah…

Untuk angkutan umum dalam kota atau mikrolet, orang Manado menyebutnya dengan nama yang lebih singkat mikro. Warnanya sama dengan mikrolet di Makassar dan Kendari yaitu biru muda. Perbedaan terletak pada susunan tempat duduknya. Jika di Makassar dan Kendari bangku dipasang berhadap-hadapan, di sini dipasang semua menghadap ke depan seperti pada bis atau mobil pribadi. Tempat duduk tambahan berupa papan yang dipasang di antara kedua kursi di barisan tengah disebut tempat duduk VIP. Penamaan yang sedikit bergengsi. Kalau di Makassar, tempat duduk tambahan dipasang di depan pintu menghadap ke semua penumpang. Sehingga orang yang duduk disitu terlihat seperti televisi yang dipandangi semua penumpang lain. Anak muda Makassar sering menyebutnya televisi atau kursi ulangtahun. Dan hal yang membuatku sedikit heran pada awalnya adalah di kursi samping supir, bisa diduduki oleh dua orang jika sedang penuh. Jadi di depan bisa tiga orang dengan supir. Bayangkan jika kedua penumpang itu berbadan besar. Betapa sempitnya. Jika naik mikro sendirian, saya tidak mau duduk di depan. Bagaimana jika di perjalanan ada penumpang yang juga duduk di depan, apalagi kalau laki-laki. Sangat tidak nyaman.

Terakhir, orang-orang Manado berperangai ramah. Mereka tidak segan menegur orang yang baru ditemuinya. Misalnya saat berpapasan di tempat-tempat umum atau saat menjumpai teman baru di tempat kerja. Menyapa dengan senyuman sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Sebenarnya, masih banyak yang bisa diceritakan dari Bumi Nyiur Melambai ini. Disebut begitu karena dimana-mana tanahnya ditumbuhi pohon kelapa. Jika kuceritakan semua, sepertinya bisa jadi satu buku :). Atau malah saya bakal dikira duta pariwisata Sulawesi Utara.

Cinta Tak Harus Memiliki

3 komentar
Kalimat yang sudah sangat familiar di telinga dan mata. Biasanya suatu ungkapan menjadi sering digunakan oleh masyarakat jika maknanya disetujui atau dibenarkan oleh akal. Dengan kata lain, artinya tidak mengada-ada. Namun bagiku agak mengganjal. Setiap mendengar kalimat ini, ada penolakan kecil di dalam benakku. Entah akal atau perasaanku yang tidak menyetujuinya.

Benak sederhanaku berkata…

Kalau memang bukan milik atau SUDAH bukan milik, ya jangan dicintai. Cintailah yang sudah menjadi milikmu. Milik orang lain biarkan saja dicintai oleh pemiliknya. Seperti biasa… Bicara memang gampang. Tetapi itulah yang menjadi salah satu “prinsip”ku. Aduh tidak tahu apa istilah yang lebih pas. Saya pakai istilah “prinsip” saja. Perbendaharaan istilah intelek-ku masih sangat kurang.

Kembali ke masalah cinta-cintaan…

Seringkali yang terjadi padaku adalah saya baru akan mencintai jika saya tahu bahwa orang itu mencintaiku. Cinta tidak bisa kurasakan jika hanya satu arah. Cinta itu tidak akan datang jika tak ada yang memberikannya. Nyambung tidak ya jika saya mengatakan ini sama dengan prinsip “ada uang ada barang”. Jika dianalogikan menjadi “ada cinta ada cinta”. Mungkin kesannya egois. Namun inilah yang sering kualami. Akan tetapi, tetap ada syarat yang kubuat untuk diriku sendiri. Cinta akan kubiarkan berkembang jika si pemberi cinta itu adalah milikku. Jika bukan atau belum menjadi milikku, cinta itu akan kudiamkan saja. Terlebih jika ada orang lain yang memilikinya. No way !

Jumat, 07 Agustus 2009

Narsisme Dalam Manajemen

2 komentar
Semalam saya mendengar siaran radio. Ada sebuah cerita yang membuatku ingin menceritakannya kembali. Dengan menuliskannya di sini, saya harap tidak akan terlupakan karena ada arsipnya. Bagiku ini menarik.

Suatu ketika sewaktu Bill Clinton masih menjabat sebagai Presiden USA, ia merasa jenuh dengan acara-acara protokoler yang harus diikutinya setiap hari. Ia pun bersama Hillary menyelinap keluar dari kediaman mereka pulang ke kampung halaman Bill di Arkansas. Berdua saja mereka berangkat dengan mengendarai mobil. Sesampai di sana, mobil yang mereka kendarai itu kehabisan bensin. Di Amerika, di SPBU kita mengisi sendiri bensin kemudian dibayar di kasir. Hillary berkata kepada suaminya, “ Jangan kamu yang ke kasir, karena semua orang pasti mengenalimu, biar saya saja”. Hillary pun berjalan ke kasir untuk membayar. Bill menunggu, menunggu, dan menunggu. Mengapa begitu lama ? Pikirnya. Ternyata dilihatnya sang istri sedang mengobrol dengan seorang pria ganteng. Mereka terlihat sangat akrab. Akhirnya saat Hillary kembali ke mobil, Bill pun bertanya, “ Kamu tadi ngobrol dengan siapa ?”. Ia merasa sedikit cemburu. Dengan tenang sang Ibu Negara menjawab,” Oh dia pemilik SPBU ini, dia mantan pacarku dulu”. Bill lalu berkata,” Kamu beruntung menikah dengan saya. Jika kamu menikah dengan dia kamu hanya akan menjadi istri penjual bensin”. Hillary yang dikenal cerdas menjawab,” Jika saya menikah dengan dia, dia yang akan menjadi presiden. Bukan kamu”.

Sikap Bill Clinton inilah yang disebut Narsisme Dalam Manajemen. Ia merasa keberhasilannya menjadi presiden adalah karena dirinya sendiri. Ia lupa bahwa orang-orang di sekitarnya juga berperan dalam mengantarkannya menjadi seorang pemimpin yang sukses.

Rabu, 05 Agustus 2009

Award Kedua

2 komentar
Dapat award lagi nih. Kali ini dari Mas Doyok, makasih ya... Seperti sebelumnya, instruksinya ku copy-paste saja deh biar tidak repot. Lagipula kata-kata dari Mas Doyok sangat mudah dipahami.

Dimulai dari Taurus yah karena itu zodiakku ....... :)


































Nah, selanjutnya award ini akan saya berikan kepada sobat-sobat tercinta:
1. Romanisti
2. Asrizal
3. Adem Ayem
4. Zujoe
5. Zindunk Anggar
6. Nadia Azka
7. Akhi Ridho Wahyudi
8. Maudhy Satyadharma
9. Novita
10. Krisna

Nah, yang nerima harap bagikan lagi yahhh

Cara Pengambilan:
1. Kopas saja seluruh artikel ini
2. Ganti nama pemberi award, kalo aku dari Mas Doyok, ganti dari aku dong (kasih link ke aku)
3. Nah, lalu bagikan ke sepuluh tmanmu yang lain.... (bisa bertahap kalo masih bingung)
4. Kasih tau temanmu lewat shoutmix... :D

Rabu, 29 Juli 2009

Award Pertama-ku

0 komentar

Sebenarnya saya belum terlalu mengerti dengan Penganugerahan Award di kalangan para blogger ini. Sebelumnya sudah sering melihat di blog teman-teman. Saya pikir penerima award ini adalah mereka yang sudah "profesional" baik dari segi design blog maupun isi tulisannya yang berbobot. Makanya cukup mengejutkan ketika membaca komentar salah satu teman yang berkunjung di blogku. Oleh Akhi Rido Wahyudi saya juga diberi award. Begitu membaca instruksinya, sedikit membingungkan bagiku yang sangat awam ini. Karena waktuku yang tidak banyak untuk mengutak-atik blog, instruksi ini kuabaikan dulu. Namun keesokan harinya, saat membuka akun blog akhirnya saya terdorong juga untuk meluangkan waktu sedikit untuk mencoba menjalankan langka-langkah supaya bisa dapat award. Biar tidak semakin membuatku bingung, ku copy-paste saja. Seperti teman-teman lain :)

Award ini sendiri merupakan Award yang ber-backlink, maka sahabat blogger yang menerima award ini akan secara otomatis mendapatkan backlink, dan jika kita mengikuti aturannya secara tepat maka blog kita akan mendapatkan banyak backlink dalam waktu yang singkat.
Dan pada akhirnya saya memutuskan para sahabat blogger yang menerima award ini adalah :
Kelompok Ilmiah Remaja
han-schatzi
Junaedi
Arfi
Fay
Wawan
Fisa
Ummi Nay
elsa
Kopral

“Bagi siapa saja yang menerima award ini diharuskan untuk membagikan kembali award ini kepada sepuluh orang temannya. Dan selanjutnya si penerima award harus meletakkan link-link berikut ini di blog atau artikel kamu :

1. Reza

2. Rizky

3. Omtomi

4. Blognyaipank

5. My Music

6. Avanca Linux

7. Ote Tatsuya

8. Deogracias

9. Akhi Rido Wahyudi

10. Hana Mugiasih

Aturannya begini :
sebelum kamu meletakkan link di atas, kamu harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. Sehingga semua peserta naik 1 level. Yang tadi nomor 2 jadi nomor 1, nomor 3 jadi 2, dst. Kemudian masukkan link kamu sendiri di bagian paling bawah (nomor 10). Tapi ingat ya, kalian semua harus fair dalam menjalankannya. Jika tiap penerima award mampu memberikan award ini kepada 5 orang saja dan mereka semua mengerjakannya , maka jumlah backlink yang akan didapat adalah

Ketika posisi kamu 10, jumlah backlink = 1
Posisi 9, jml backlink = 5
Posisi 8, jml backlink = 25
Posisi 7, jml backlink = 125
Posisi 6, jml backlink = 625
Posisi 5, jml backlink = 3,125
Posisi 4, jml backlink = 15,625
Posisi 3, jml backlink = 78,125
Posisi 2, jml backlink = 390,625
Posisi 1, jml backlink = 1,953,125

Dan semuanya menggunakan kata kunci yang kamu inginkan. Dari sisi SEO kamu sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline kamu mengklik link itu, kamu juga mendapatkan trafik tambahan.
Nah, silahkan copy paste saja, dan hilangkan peserta nomor 1 lalu tambahkan link blog/website kamu di posisi 10. Ingat, kamu harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal. Karena jika kamu tiba2 di posisi 1, maka link kamu akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10.”

Selamat mengambil award-nya, sobat. Tetap jalin silaturrahim kepada para blogger agar blog sobat cepat naik trafik pengunjungnya. Selamat kepada para sahabat blogger yg mendapat award.